Kecelakaan pesawat di Korea Selatan akibat rintangan beton di bandara

Kecelakaan Pesawat di Korea Selatan: Rintangan Beton Penyebabnya?

SEOUL: Sebuah rintangan beton yang dianggap sebagai penyebab kecelakaan pesawat di Korea Selatan yang merenggut nyawa 179 orang pada bulan Desember 2024, dibangun untuk menghemat biaya, menurut laporan auditor negara pada hari Selasa (10 Maret).

Pesawat Jeju Air Penerbangan 2216 sedang dalam proses pendaratan di Bandara Internasional Muan setelah melakukan penerbangan dari Thailand ketika pesawat tersebut menabrak sekawanan burung dan terpaksa melakukan pendaratan darurat. Meskipun para pilot berhasil mendaratkan pesawat dan menggesernya di sepanjang landasan, pesawat itu terjebak dalam kobaran api setelah bertabrakan dengan struktur beton yang terkubur di dalam gundukan di ujung landasan, mengakibatkan 179 orang di dalamnya tewas.

Hanya dua pramugari yang duduk di bagian ekor pesawat yang selamat dari kecelakaan tersebut.

Sebuah simulasi yang ditugaskan oleh pemerintah dan dirilis awal tahun ini menemukan bahwa semua penumpang seharusnya selamat andai saja struktur beton yang mendukung sistem navigasi lokalizer – sebuah sistem antena navigasi yang membantu pesawat saat mendarat – tidak ada di tempat tersebut.

Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Badan Audit dan Inspeksi, disebutkan bahwa struktur beton tersebut dibangun oleh Kementerian Transportasi dengan tujuan untuk “mengurangi biaya.”

Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa medan tempat landasan dan area keamanan di ujung landasan Bandara Muan dibangun dalam kondisi miring. Alih-alih meratakan area tersebut, yang akan memerlukan pekerjaan tanah yang signifikan dan biaya yang lebih tinggi, pejabat memilih untuk memasang lokalizer pada struktur beton yang lebih tinggi dari landasan, menurut laporan audit tersebut.

“Hal ini mengurangi volume pekerjaan tanah yang diperlukan. Perbedaan tinggi yang dihasilkan dengan titik tertinggi landasan kemudian diatasi dengan membangun penghalang,” kata laporan tersebut.

Pedoman keselamatan penerbangan internasional menyatakan bahwa fasilitas navigasi seperti itu harus terbuat dari bahan yang mudah patah atau frangible.

Laporan simulasi mencatat bahwa jika lokalizer didukung oleh struktur yang frangible, “dampak yang dihasilkan tidak akan cukup parah untuk menyebabkan cedera serius.”

Pesawat tersebut “akan meluncur sejauh sekitar 770 meter sebelum berhenti” jika landasan tidak terdapat rintangan, menurut studi tersebut.

Dampak dan Konteks

Kecelakaan ini menjadi perhatian serius tidak hanya bagi dunia penerbangan di Korea Selatan, tetapi juga bagi masyarakat internasional. Bagaimana mungkin sebuah keputusan untuk mengurangi biaya dapat berakibat fatal bagi banyak orang? Kejadian ini juga memicu diskusi tentang pentingnya keselamatan di sektor penerbangan, terutama mengenai standar konstruksi infrastruktur bandara di seluruh dunia.

Di Indonesia, yang memiliki lalu lintas penerbangan yang cukup padat, kejadian serupa harus menjadi pelajaran berharga. Penting untuk memastikan bahwa setiap infrastruktur yang dibangun memenuhi standar keselamatan yang ketat agar tragedi serupa tidak terulang di tanah air.

Kesimpulan

Kecelakaan pesawat Jeju Air yang menewaskan 179 orang ini mengingatkan kita akan pentingnya prioritas keselamatan di atas segala hal, termasuk penghematan biaya. Keputusan yang keliru dalam membangun infrastruktur dapat membawa dampak yang sangat fatal. Oleh karena itu, evaluasi dan penegakan standar keselamatan yang lebih ketat perlu dilakukan untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *