PERKI Tekankan Pentingnya Kepercayaan Pasien pada Layanan Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, sehingga upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan sangat penting. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menegaskan bahwa menghadirkan dokter dan teknologi saja tidaklah cukup. Membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri merupakan tantangan besar agar pasien tidak berobat ke luar negeri.
Ketua Pengurus Pusat PERKI, Ade Meidian Ambari, menyampaikan bahwa perhatian publik sering kali lebih tertuju pada kasus sengketa antara dokter dan pasien. Sementara itu, keberhasilan dokter Indonesia dalam menangani kasus-kasus kompleks sering kali terabaikan. Menurutnya, kompetensi dokter spesialis jantung Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Dalam perbandingan dengan Singapura, Ade menyatakan bahwa tingginya jumlah pasien di Indonesia justru memberikan lebih banyak pengalaman klinis bagi dokter. “Kelebihan mereka adalah lebih banyak menulis publikasi ilmiah sehingga lebih dikenal,” ujarnya saat pertemuan media dalam ASMIHA 2026, di Jakarta.
Ia mengakui bahwa membangun kepercayaan dari masyarakat membutuhkan waktu dan usaha berkelanjutan. Tak hanya itu, tantangan lain muncul dari jumlah dokter spesialis jantung yang masih terbatas dan distribusinya yang tidak merata. Saat ini, terdapat sekitar 2.200 dokter spesialis jantung di Indonesia, dengan 1.600 di antaranya masih aktif. Sekitar 60 persen dokter tersebut berada di Pulau Jawa dan Sumatera, sedangkan 40 persen kabupaten/kota di Indonesia belum memiliki layanan dokter spesialis jantung.
PERKI berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan kolegium untuk memastikan penempatan dokter spesialis di daerah didukung dengan fasilitas yang memadai. “Mereka tidak dapat bekerja secara optimal jika belum ada peralatan dasar yang diperlukan,” ungkap Ade. Selain pemerataan dokter, penguatan sistem pembiayaan juga menjadi aspek penting untuk meningkatkan layanan kesehatan.
Di sisi lain, Ade mengakui adanya perbedaan kualitas layanan antara rumah sakit di Indonesia dan negara-negara tujuan berobat seperti Singapura. Berdasarkan pengalamannya, pelayanan di Singapura sangat memperhatikan kenyamanan pasien dari kedatangan hingga kepulangan setelah perawatan. Ia menekankan bahwa meskipun kualitas dan layanan seperti itu perlu dipelajari, prioritas utama sistem kesehatan nasional harus terfokus pada layanan gawat darurat yang menyelamatkan nyawa. “Setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, peningkatan kualitas layanan dan teknologi kesehatan akan terus dikembangkan secara bertahap,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kolegium Kardiologi Indonesia, Renan Sukmawan, menyatakan bahwa kompetensi dokter spesialis jantung Indonesia disusun berdasarkan standar yang setara dengan negara lain. Dokter yang ingin mendalami bidang tertentu, seperti intervensi jantung atau aritmia, harus mengikuti pendidikan lanjutan (fellowship) selama satu hingga dua tahun sebelum memperoleh kompetensi subspesialis. “Kompetensi dokter jantung Indonesia sama dengan dokter jantung di Amerika pada level spesialis,” ungkap Renan.
Kolegium juga bertanggung jawab dalam menyusun standar kompetensi, menentukan kurikulum pendidikan, serta menguji dokter sebelum mereka mendapatkan sertifikat kompetensi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menambahkan bahwa dalam bidang kardiologi, BPJS telah menjalin kerja sama dengan sekitar 3.200 rumah sakit, 3.000 klinik, dan 241 laboratorium kateterisasi jantung (cath lab) di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah, karena sekitar 260 cath lab lainnya sedang dalam proses kerja sama. “Kementerian Kesehatan juga mempunyai program untuk menghadirkan minimal satu cath lab di setiap kabupaten,” jelasnya.
Prihati menjelaskan bahwa hampir seluruh layanan berteknologi tinggi telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, mulai dari layanan cath lab, radioterapi, kedokteran nuklir, kemoterapi, hingga hemodialisis. Namun, teknologi baru perlu terus diperbarui untuk memenuhi kebutuhan pasien dan meningkatkan layanan kardiovaskular di Indonesia.
Related Post
- February 4, 2026
- by Bonnie Burns
- 0
- 3:07 am
Rekomendasi Mainan Edukasi Anak Sesuai Usia
Introduction Educational toys play a crucial role in a child's development by providing them with…
- March 19, 2026
- by Bonnie Burns
- 0
- 1:37 pm